Pengikut

Kamis, 07 November 2024

LOGIKA ABAD PERTENGAHAN

Pada abad pertengahan sebelum tahun 1141, perkembangan logika masih menggunakan logikanya Aristoteles, terutama logika prediksi dan logika proposisi. Ditambah lagi dengan dua karya setelahnya yaitu Boethius dan Pophyries, yang disebut logika lama. Setelah tahun 1141, para filsuf menggunakan 4 karya Aristoteles lainnya yang disebut logika baru. Lagi gak lama dan luka baru diberi nama logika antiq, yang dibedakan dengan logika modern atau logika suposisi, yang dikembangkan oleh para filsuf Arab. Para filsuf Arab ini menekankan pada pentingnya pendalaman logika suposisi untuk menerangkan kesesatan logis. Hal-hal lain yang diterangkan adalah ciri-ciri term sebagai simbol tata bahasa dari konsep-konsep. Suposisi memiliki arti fungsional di dalam proposisi tertentu. Pada abad XIII-XV lagi kamu modern mengalami perkembangan yang cukup signifikan setelah ditemukannya metode logika baru oleh Raymond Lulus. Metode yang dimaksud adalah Ars magma, semacam aljabar pengertian untuk membuktikan kebenaran tertinggi. 




Pada abad ke VII-VIII perkembangan agama Islam tidak hanya di jazirah Arab tetapi juga meluas ke barat sampai perbatasan Prancis sampai ke thian shan. Pada masa Khalifah dinasti Abbasiyah dan dinasti-dinasti Islam lainnya banyak karya-karya ilmiah diterjemahkan terutama karya ilmiah Yunani ke dalam bahasa Arab, sehingga ada di suatu masa di dalam sejarah Islam disebut abad penerjemahan. Logika karya aristoles juga diterjemahkan dan diberi nama ilmu mantiq. 

Ciri-ciri logika pada abad pertengahan dipelopori oleh agama-agama termasuk Agama Kristen dan terutama Islam. Tokoh logika terkenal pada zaman Islam adalah Al Farabi (873-950 M) yang mahir dalam bahasa Grik Tua (Yunani Kuno), dialah yang kemudian menterjemahkan seluruh karya Yunani kuno terutama karya tulis Aristoteles ke dalam berbagai bidang ilmu. Al Farabi tidak hanya menterjemahkan tetapi juga menyalin dan mengomentari karya karya Aristoteles yang sebelumnya 6 bagian Logika (Organon) dan menambah dua bagian baru sehingga menjadi 8 bagian logika sehingga menjadi pedoman baru logika zaman itu. 

Al Farabi muda belajar ilmu-ilmu Islam dan musik di bukharah dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Kemudian ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana, setelah itu ia mengembara ke kota harran yang terletak di utara Syriah, di mana saat itu harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Yang kemudian ia belajar filsafat dari Yuhana bin Jilad. Tahun 940 M, Al Farabi melanjutkan pengembaraannya ke damaskus dan bertemu dengan sayf Al-Dawla Al Hamdanid, kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para imam Syiah. Kemudian Al Farabi wafat di kota damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H /Desember 950M) di masa pemerintahan Khalifah Al Muthi', masih di dinasti Abbasiyah. 

Al Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ya mengenal para filsuf Yunani Plato Aristoteles platinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Alperabi juga telah menulis banyak buku dari berbagai ilmu tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik kitab al-musiqa. Selain itu juga ia dapat memainkan dan telah menciptakan berbagai alat musik. Al Farabi juga dikenal sebagai guru kedua setelah Aristoteles dalam bidang filsuf / logika, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang juga dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat (logika). Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan filsafat Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama Wahyu.

Karya Al Farabi tentang logika menyangkut bagian-bagian berbeda dari karya Aristoteles Organon. Baik dalam bentuk komentar maupun ulasan panjang. Kebanyakan tulisan ini masih berupa naskah; dan sebagian besar naskah-naskah ini belum ditemukan. Sedang karya dalam kelompok kedua menyangkut sebagai berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika, matematika, dan politik. Kebanyakan pemikiran yang dikembangkan oleh Al Farabi sangat berafiliasi dengan sistem pemikiran Hellenik berdasarkan Plato dan Aristoteles. Tokoh-tokoh lain dan cendekiawan muslim yang yang juga terkenal dan mendalami ilmu Logika dan filsafat serta menterjemahkan dan mengarang di bidang ilmu mantiq adalah Abdullah bin Muqaffa', Ya'kub Ishaq Al-kindi, Abu Nasr Al-farabi, Ibnu Sina, Abu Hamid Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Qurthubi dan masih banyak lagi lainnya. 

Logika pada perkembangannya kemudian sempat mengalami masa dekadensi yang panjang. Logika bahkan dianggap sudah tidak bernilai dan dangkal sekali, barulah pada abad XIII-XV tampil beberapa tokoh lain seperti Petrus Hispanus, Roger Bacon, Raymundus Lulus, dan Wilhelm Ocham yang mencoba mengangkat kembali ilmu logika sebagai salah satu ilmu penting untuk disejajarkan dengan ilmu-ilmu penting lainnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kenapa aku bangun subuh ini

Kenapa aku bangun subuh ini Apa aku bangun karna cinta Atau cintalah yang membuatku bangun Mungkin  Setiap orang  Dibangunkan ka...