Logika berasal dari bahasa latin yaitu "Logos" yang berarti "perkataan. Dari turunan dari kata sifat logike : yaitu pikiran atau perkataan. Sedangkan dalam bahasa arab menurut ilmu Mantiq-nya berasal dari kata kerja nataqa yang memiliki arti "berkata". Logos juga berasal dari kata Yunani yang memiliki banyak arti, seperti ucapan, bahasa, kata, pengertian, pikiran,akal Budi, ilmu. Memiliki turunan kata yaitu Logis, yang sudah sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Logis memiliki arti masuk akal atau bisa diterima oleh akal sehat begitulah singkatnya.
Secara singkat, logika bisa diartikan sebagai pengetahuan tentang metode-metode dan prinsip-prinsip berpikir secara tepat. sebagaimana dalam bukunya Irving M.Copi yang berjudul Introduction to Logic yang mengatakan bahwa logika adalah suatu studi tentang metode-metode dan prinsip-prinsip yang di gunakan dalam membedakan penalaran yang tepat dari penalaran yang tidak tepat.
Mempelajari logika, khususnya logika formal (kebiasaan) secara akademis (jalur pendidikan) sambil tetap menekuni latihan-latihan secara serius merupakan jalan paling tepat untuk mengasah dan mempertajam akal budi. Dengan cara ini, seseorang lambat laut diharapkan mampu berpikir sendiri secara tepat dan bersamaan dengan itu mampu pula mengenali setiap bentuk kesesatan berpikir termasuk juga kesesatan berpikir yang dilakukannya sendiri.
Beruntunglah menjadi manusia yang sudah dikaruniai akal pikiran, dengan berpikir kita sudah ber-logika. Sadar atau tidak sadar setiap kita menjalani kehidupan pasti kita berpikir, maka dengan pikiran itulah kita berlogika. Nah yang menjadi pertanyaannya, jika kita sudah ber-logika. sudah tepatkah logika kita atau belum ?.
Ruang lingkup penyelidikan logika adalah manusia itu sendiri, karena hanya manusia yang mampu melakukan aktivitas berpikir. Manusia tersebut hanya dipelajari dari aspek (bagian) tertentu, yaitu aspek Budi dan aspek berpikirnya. Aturan berpikir dipelajari dalam logika agar manusia dapat berpikir dengan semestinya sehingga tercipta teknik-teknik berpikir yang menuntun cara berpikir lurus. Teknik-teknik berpikir yang dipelajari dalam logika tentu dilandasi oleh bentuk-bentuk dan hukum-hukum berpikir yang telah diselidiki dan dirumuskan oleh logika itu sendiri. Jadi, cara untuk berpikir yang baik dan benar itu adalah mempelajari teknik-teknik dan hukum-hukum yang telah teruji oleh logika itu sendiri (oleh pemikir di zaman dahulu).
Kepentingan, peranan, dan manfaat logika akan terasa bagi orang-orang yang ingin menyempurnakan proses berpikirnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun rangka mempelajari suatu ilmu tertentu. Hal ini menjelaskan bahwasanya suatu ilmu itu dapat disebut ilmu jika telah melalui proses pemikiran. Sehingga logika menjadi penghubung kebenaran suatu ilmu sehingga dapat diterima oleh banyak orang. Tidak mungkin rasanya suatu ilmu itu tidak melalui proses pemikiran. Bahkan semakin dalam kita mempelajari suatu ilmu maka semakin tinggi peran logika dalam ilmu itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita diperlukan berpikir untuk menentukan suatu pilihan yang benar. Contohnya saja, dalam menentukan kesimpulan atau suatu pilihan. Jika pilihan kita itu salah, maka akibatnya akan buruk pula bagi diri kita sendiri maupun orang yang ada di sekitar kita. Dengan demikian maka paham lah, begitu pentingnya logika yang benar atau cara pikir yang benar untuk membawa kita lebih baik lagi.
Kebiasaan berpikir yang benar akan memiliki kegunaan untuk membimbing manusia. Apa saja kegunaan-kegunaan lain dari logika itu sendiri.
1. Membuat daya pikir menjadi lebih tajam dan berkembang melalui latihan-latihan berpikir. Oleh karena itu akan mampu menganalisis serta mengungkapkan permasalahan secara runtut dan ilmiah.
2. Membuat seorang berpikir tepat sehingga mampu meletakkan satu pada tempatnya dan mengerjakan sesuatu tepat pada waktunya.
3. membuat seseorang mampu membedakan alur pikir yang benar dan alur pikir yang keliru sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang benar dan terhindar dari kesimpulan yang keliru.
4. Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren.
5. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
6. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir setajam dan mandiri.
7. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis.
8. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan dan kesehatan.
9. Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar